Pengikut

MENANAM BAMBU HARAPAN MASA DEPAN

Kelestarian mata air dan konservasi lahan

Pertanian dan Pariwisata

Agrowisata adalah alternatif upaya peningkatan kesejahteraan Petani Borobudur

Dampak Pelaksanaan Sekolah Lapang SRI

Tercapainya swasemabada pangan merupakan tujuan kita semua. Dengan SL SRI ternyata peoduksi padi meningkat

Penyuluh in Action

Inilah aksi nyata penyuluh dalam bentuk foto tanpa arahan ternyata penyuluh kita fotogenik juga

Rapat Koordinasi 2014

Rapat Bersama Koordinator PP Kec. Borobudur Dwi Kustanto, S.PKP

Selasa, 26 Mei 2015

APRESIASI BUPATI MAGELANG TERHADAP PROGRAM OPTIMASI LAHAN DENGAN SRI




Guna perwujudan dari Nawa Cita Presiden RI Joko Widodo, dan pelaksanaan Program UPSUS PAJALE dengan tujuan pencapaian swasembada beras tahun 2017 dilaksanakan berbagai macam program. Salah satu program adalah Optimasi Lahan yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Magelang.
Program ini bertujuan meningkatkan penggunaan lahan atau peningktan IP/Index Pertanaman dengan peningkatan penggunan bahan organik guna mengembalikan kondisi lahan. Pelaksanaan program ini ditandai dengan kegiatan tanam serempak oleh petani pelaksana optimasi lahan.
Pada tanggal 19 Mei 2015 diadakan acara Tanam Perdana Bersama Bupati Magelang Kepala Distanbunhut dan Ketua Anggota  DPRD II Kabupaten Magelang di lahan Kelompok Tani Pelita Jaya dusun Cakran Desa Kebonsari Kecamatan Borobudur.
Bupati Magelang dalam sambutannya memberikan apresiasi positif terhadap program ini karena berdampak langsunag terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani. Dari Distanbunhut memberikan sinyal hijau kepada kelompok tani untuk mengajukan permohonan bantuan karena pada masa ini dibuka keran selebar lebarnya bagi Kelompok Tani untuk memajukan kelompok dengan menerima stimulan berupa sarana produksi sesuai kondisi dan situasi setempat.
Dengan tanam serempak ini kami berharap menjadi awal langkah untuk merapatkan barisan meneguhkan langkah untuk mengggapai cita cita kita yaitu swasembada beras tahun 2017  

Sabtu, 01 Maret 2014

MENANAM BAMBU HARAPAN MASA DEPAN



Tanaman bambu merupakan tanaman yang serba guna, dimanfaatkan oleh rakyat untuk bangunan rumah , forniture, kerajinan, bahan bakar, rebungnya untuk sayuran , juga berfungsi  mencegah tanah longsor dan  menahan abrasi sungai serta perakarannya mampu menyimpan air terbukti bahwa sumur di dekat pohon bambu airnya tak pernah mengering. Tanaman bambu memiliki prospek yang cerah di masa depan, ditengah perhatian dunia yang lebih, terhadap perubahan iklim dan perlindungan hutan.
Menurut Dwi Kustanto selaku Koordinator Penyuluh Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang , bahwa menanam bambu satu kali bisa untuk selama 60 tahun, karena tanaman bambu beranak pinak dan umur 4 tahun sudah layak digunakan untuk bangunan rumah dan forniture. Kalau kayu umurnya menunggu sekitar 10 tahun bisa digunakan untuk bangunan dan kayu habis ditebang harus tanam  lagi, kalau bambu cukup menanam sekali tiap tahun bisa menebang. Bambu  merupakan tanaman pengganti kayu dari hutan tropis yang saat ini sudah sangat berkurang akibat dari permintaan yang sangat besar dari industri, oleh karena itu perhatian terhadap produksi bambu mulai meningkat di semua benua baik Asia, Afrika, maupun Amerika.
Ketua DPRD Kab. Magelang , Gabungan Kelompok Tani Manunggal Roso Desa Bigaran, Camat Borobudur, Kepala Distanbunhut, Kepala BPPKP Kab. Magelang , Kepala BLH Kab. Magelang, PERHIPTANI dan IPKINDO Kab. Magelang , pada hari Senin tanggal 3 Maret 2014 telah melaksanalan  penanaman  bibit bambu petung sebanyak 500 pohon di desa Bigaran Kecamatan Borobudur di lahan marginal. Tujuannya adalah untuk menggugah kelompok tani agar sadar menanam bambu petung untuk masa depan ,karena tanaman bambu petung yang ada di desa tinggal sedikit dan itupun tanaman warisan dari pendahulunya.Permintaan komoditas bambu secara global tumbuh  lebih cepat dari tingkat ketersediaannya. Sehingga peluang bisnis perkebunan bambu masih sangat besar dan terbuka.
Bupati Magelang dalam sambutan tertulisnya lewat Kepala DISTANBUNHUT  Ir.Wijayanti,M.Si. mengharapkan bahwa setiap desa di Borobudur dapat menanam pohon bambu petung 1.000 batang perdesa, dimulai dari penanaman perdana bambu petung di Desa Bigaran Kec. Borobudur. Dari waktu ke waktu bambu selalu dapat membuktikan sebagai bahan baku yang dapat diandalkan dalam berbagai aplikasi praktis. Di abad 21 ini bambu akan terus menjadi komoditas industri yang semakin berharga. Di kabupaten Magelang, bambu menjadi unggulan untuk Hasil Hutan Bukan kayu (HHBK), dan dari Kementerian Kehutanan mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang 10% untuk pengembangan bambu. “Kita berharap akan semakin sering menemukan lebih banyak produk berbahan baku bambu di pasaran dan juga furniture dari bambu” ungkapnya.

Ketua DPRD Kab. Magelang Saryan Adiyanto, SE. berpesan kepada Gabungan Kelompok Tani Manunggal Roso penanaman bambu petung harus diikuti dengan pembinaan ketrampilan mengolah bambu menjadi barang yang mempunyai nilai seni tinggi sehingga harganya menjadi meningkat, wisatawan yang berkunjung di Borobudur mencapai 2 juta orang tiap tahun ini perupakan pangsa pasar barang seni dari bambu. “Hal ini bisa terwujud manakala ada integrasi Dinas terkait seperti Distanbunhut, BPPKP, Disperindagkop dan Dinas Pariwisata secara konperhensip” demikian tambah Saryan Adiyanto, SE.

Rapat Koordinasi BPPK Kec Borobudur 2014



Wajah berseri-seri tampak pada para personel BPPK Kecamatan Borobudur pada pagi ini. Hari ini tanggal 28 Februari 2014 jam 09.00wib diadakan rapat koordinasi di BPPK kecamatan Borobudur yang dipimpin oleh Dwi Kustanto, S.PKP dihadiri oleh 12 personel ditambah Mantri Tani.
Rapat ini membahas berbagai hal antara lain :
a.       Rencana kegiatan pada tanggal 3 Maret 2014 yaitu tanam bersama bibit bambu bersama Bupati Magelang beserta kepala beberapa SKPD guna pelestarian mata air dan konservasi tanah.
b.      Pemaparan masing masing penyuluh tentang program yang dilaksanakan dan pencapaian sampai saat ini. Beserta pembahasan  akan pemecahan masalah yang dihadapi.
c.       Pemaparan dari Mantri tani yaitu Sri Yuliani SP tentang rencana kegiatan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan yang dilaksanakan di Kecamatan Borobudur tahun 2014 mencakup berbagai Kegiatan menyangkut DAK , Perkebunan SLPTT, SLSRI Saprodi.
Rapat berjalan lancar dan berakhir pada jam 10.00 . kepuasan tercermin pada masing masing wajah para personel BPPK Borobudur. Keceriaan yang telah lama hilang kini telah kembali.

Rabu, 23 Oktober 2013

Programa Penyuluhan Tingkat Kecamatan Borobudur

Pada hari Kamis dan Sabtu 17 dan 19 Oktober 2013 di aula BPPK kec. Borobudur diadakan Penyusunan Programa Penyuluhan kec. Borobudur dengan peserta sejumlah 20 orang terdiri dari personel BPPK 15 orang, Kusmiyati S.Pt dari BPPKP Kabupaten Magelang dan 4 orang pelaku usaha tani kecamatan Borobudur.


Pada kesempatan ini hadir pula Camat Borobudur, dalam sambutannya Camat Borobudur mendukung usaha peningkatan taraf hidup petani dengan penyuluhan, beliau juga menyoroti besarnya potensi wisata yang dapat dikembangkan dengan melibatkan petani dan komponen pertanian. Banyak kegiatan pertanian bisa diajadikan obyek wisata sehingga secara langsung bisa meningkatkan kesejahteraan petani.
Evaluasi pelaksanaan kegiatan penyuluhan, penggalian masalah beserta pemecahan dilaksanakan pada hari pertama sedangak hari kedua adalah penentuan skala prioritas dan pengesahan matrix Programa.
Programa adalah acuan bagi penyuluh untuk menyusun Rencana Kegiatan Tahunan sebagai wadah untuk menampung permasalahan pertanian,untuk tingkat desa disusun oleh Gabungan kelompok Tani (Gapoktan).
Penyusunan Programa bertujuan memberikan bahan atau arahan guna terlaksananya penyuluhan yang berkesinambungan dan dapat mengatasi masalah yang dihadapi petani sesuai dengan potensi serta kemampuan yang dimiliki serta dengan harapan mampu menimgkatkan kemandirian petani dalam mengatasi masalahnya sendiri.

Sabtu, 28 September 2013

Sarana dan Prasarana BPPK Borobudur


Di bawah ini adalah daftar Sarana dan Prasarana yang ada di BPPK Borobudur



Penyuluh Borobudur in action

Julia Permana Dewi bersama KWT

Muh Sodiq bersama FMA Desa Giritengah

Lilis Lestyorini bersama Sri Suharti

Zaenal Qori bersama Poktan Giri Makaryo

Sri Suharti bersama FMA Desa Wringinputih

Sri Suharti mengadakan pengamatan ternak

Sumardi di Kelompok Sido Rukun

Dwi Kustanto bersama Hepi Aprianto di areal pembibitan

Nur Rochmadi sedang Demontrasi cara membuat jamu ternak

Rabu, 25 September 2013

Pertanian dan Pariwisata

Candi Borobudur Magnet Wisata
Borobudur adalah sebuah magnet yang sangat kuat untuk kunjungan wisata. Jumlah wisatawan dari tahun ketahun tak pernah berkurang kecuali tahun 2010 saat erupsi merap. Borobudur merupakan aset nasional kebanggaan kita semua. Ia menjadi penggerak roda ekonomi bagi pelaku bisnis jasa maupun cinderamata baik bagi penduduk asli Borobudur maupun para pendatang. Keberadaan Borobudur menjadi pemutar roda ekonomi telah dirasakan oleh banyak orang, namun apakah hal ini juga dirasakan oleh petani kita? ternyata tidak. Petani hanya menjadi penonton atau mungkin menjadi korban semata.
Fihak Taman dalam mengupayakan adanya dampak positif keberadaan candi Borobudur telah mendorong tumbuhnya desa desa wisata di kawasan kecamatan Borobudur.
Pesta Budaya Desa Wanurejo Borobudur
Kondidi saat ini menunjukkan bahwa cakupan dunia pariwisata telah berkembang, selain wisata alam maupun bangunan bersejarah ternyata banyak wisata jenis lain misalnya wisata kuliner, wisata agro, ataupun keramahan pendudduk merupakan hal yang banyak dicari oleh wisatawan baik asing maupun domestik.
seorang wisatawan asing dengan bangga mengupload video perjalanan di Desa Giritengah Borobudur seperti di bawah ini

Dari sini kita berfikir bagaimana caranya menghubungkan dua fihak yaitu dunia pertanian dan pariwisata, dunia pariwista digambarkan sebagai fihak yang memiliki kelebihan fiskal sedangakan dunia pertanian secara umum memiliki kekurangan atau lebih mudah adalah minus secara fiskal. hubungan yang saling menguntungkan ini yang kita harapkan, dalam hal ini penyuluh tak akan bisa bekerja sendirian, diperlukan kebijakan dan juga fasilitas dari fihak yang berwenang, akan tetapi yang paling mendasar adalah kesadaran petani yang memahami potensi wisara yang bisa dikembangkan serta bersedia untuk menata diri dan lingkungan hingga  layak dikunjungi sebagai obyek wisata.
Ini adalah impian yang boleh jadi akan segera terwujud mengingat besarnya potensi wisata yang kita miliki, semua tergantung keseriusan kita.

Senin, 16 September 2013

Pembuatan MOL (Mikroorganisme Lokal)

MOL(Mikroorganisme Lokal) adalah sebuah fermentor dengan bahan dasar lokal, merupakan bagian dari Teknologi NOSC. Bahan yang dipakai mudah diperoleh, disamping itu komposisi bahan dibuat multi fungsi . Mol ini bisa digunakan untuk membuat pupuk organik ataupun bisa digunakan sebagai kocoran untuk tanaman. Cara pembuatannya cukup mudah :

BAHAN :
Ø  Sabut Kelapa
Ø  Molase
Ø  Bonggol Pisang
Ø  Buah Maja
Ø  Daun Kleresede
Ø  Tepung Beras/Air leri
Ø  Air sumur
Alat :
Ø  Ember 40 ltr
Ø  Sabit/Pencacah
Ø  Pengaduk
Ø  Kertas HVO
Ø  Tali
Cara Pembuatan :
1.      Bonggol  Pisang dicuci, dibersihkan dari tanah yang menempel, dicincang untuk mengeluarkan airnya.
2.      Siapkan ember , tuangkan air 10-15 ltr. Masukkan molase sampai jika dicicipi terasa manis.
3.      Masukkan tepung beras 1-2 0ns atau air leri  ke dalam larutan  aduk  sampai merata.
4.      Bonggol pisang yang telah dihancurkan dimasukkan ke lautan molase. Daun klereside beserta  isi buah maja dimasukkan dalam larutan.
5.      Ember ditutup dengan kertas koran dan di ikat tali, biarkan selama 3 hari. Lindungi dari hujan dan sinar matahari langsung.
6.      Pada hari ke 3 dilakukan pengamatan , jika tercium bau tape menandakan bahwa fermentasi berjalan dengan baik, jika bau tape tidak tercium atau tercium bau badek maka tambahkanlah molase sebagai nutrisi untuk mikroorganisme.
7.       MOL akan jadi setelah hari ke 15 siap digunakan.